|
Beberapa waktu lalu saya tanpa sengaja membaca sebuah artikel mengenai anak indigo. Beberapa karakteristik anak indigo secara sepintas kok seperti yang ada pada anak saya. Dari beberapa yang menonjol adalah energi yang seolah berlebih. Sebagian orang menyebutnya sebagai hiperaktif. Namun saya tidak menganggap itu sebagai hiperaktif karena anak saya memang senang bergerak dan dalam batas yang wajar. Dia juga akan diam saat dia merasa perlu untuk diam dan beristirahat.
Karakter yang lain adalah anak indigo acapkali bersikap seperti orang dewasa, antara lain mengingatkan dan menasehati, bahkan kepada orangtuanya sendiri. Selain itu dia juga mempunyai kemampuan imajinasi yang tinggi dan beberapa dia antaranya mampu melihat hal-hal yang tak tampak. Mengenai ciri ini, banyak yang menafsirkan sebagai kemampuan cenayang atau paranormal. Anak sayapun mempunyai ciri-ciri yang demikian ini.
Untuk meyakinkan, istri saya mulai memperbanyak masukan informasi dengan membaca buku-buku mengenai indigo. Ternyata tidak semua indigo berkemampuan seperti yang saya kemukakan di atas. Ada beberapa macam indigo dengan bermacam kemampuan pula. Yang saya tulis pada paragraf di atas adalah jenis indigo spiritual yang secara kebetulan cirinya juga ada pada anak saya. Belum puas, saya coba yakinkan dengan foto aura. Hasilnya seluruh ruangan dalam foto itu didominasi ungu kebiruan yang merupakan warna indigo. Sejak itu kami berdua makin teryakini oleh kenyataan bahwa anak kami adalah anak yang dikategorikan sebagai indigo. Kami lalu makin berhati-hati dalam memperlakukan si kecil karena bila salah mengarahkan akan mengakibatkan destruksi emosional dan kepribadian.
Waktu berlalu dan saya makin banyak belajar dari pengalaman sebagai orangtua anak yang dideskripsikan sebagai indigo. Sebenarnya, memperlakukan anak baik itu indigo maupun bukan, seyogyanya memang memerlukan kehati-hatian. Setiap pribadi adalah karakter yang berbeda. Anak itu adalah sosok yang hadir dalam kehidupan kita dan membutuhkan asuhan kita untuk bisa menjalani kehidupannya sendiri kelak.
Khalil Gibran menyebutkan anak adalah anak panah yang terlepas dari busurnya. Kita tidak mempunyai hak untuk memaksakan kehendak dan menyamakan mereka dengan diri kita. Hanya hal-hal yang mendasarlah yang wajib kita perkenalkan dan ajarkan agar anak-anak ini mendapatkan pegangan dalam hidupnya. Agar mereka dapat menjalani kehidupan bersandarkan pada norma agama dan budaya. Saya bahkan mendapatkan satu pencerahan mengenai keberadaan anak bagi orangtuanya. Hal ini saya dapatkan juga dalam rangka berdiskusi mengenai anak indigo dengan kakak ipar saya. Dia menyebutkan bahwa anak saya bukanlah lahir sebagai konsekuensi dari pernikahan saya dan istri saya, namun justru demi kelahiran anak sayalah saya dan istri saya ditakdirkan untuk bertemu dan menikah.
Pendekatan ini saya coba pahami dan perluas dengan pengertian bahwa setiap anak selalu mempunyai tujuan dalam penciptaannya sebagaimana semua ciptaan-Nya di alam semesta ini. Saya jadi merasa bahwa kita sebagai orangtua hanyalah perantara atas dilahirkannya sesosok manusia baru yang akan melanjutkan tugas para pendahulunya sebagai khalifah di bumi. Jadi, saya jengah juga baca kompas hari ini kalau Rubina Ali, pemeran anak dalam film peraih Oscar Slumdog Millionaire akan ‘dijual’ sejumlah sekitar Rp. 3.1 milyar dengan alasan demi masa depan yang lebih baik. Bukankah ini berarti orangtua sebagai perantara dalam pengertian ‘broker materi’?
Bisa juga dibaca di sini. |