Fitur Spesial

Pepperonny Ngopini

Grab this Headline Animator?

My Google Pagerank

Content View Hits : 94318

 

Powered by Stock Trader
Artikel Terkini
Sepakbola dan Sifat Bangsa Print
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by pepperonny   

Sepakbola adalah olahraga tim. Tiap anggota dalam tim sepakbola harus mampu menyatukan visi dalam tiap pertandingan. Harus tercipta suatu kesenyawaan dalam mengolah strategi yang diinstruksikan oleh pelatih. Kebersamaan adalah kunci utama.

Faktor berikutnya adalah kemampuan individu. Dalam permainan sepakbola, tiap posisi harus diisi oleh anggota tim yang memiliki kemampuan yang mumpuni. Boleh saja ia memiliki kemampuan pada beberapa posisi sekaligus, namun pelatih harus memutuskan pada posisi mana dia seharusnya berada. Keputusan ini harus didasari atas kelayakan pemain tersebut menurut jajak rekamnya dalam karir sepakbolanya.

Selanjutnya adalah faktor pelatih dan manajemen. Pelatih tidak harus sosok yang memiliki kemampuan bermain mencorong. Pelatih klub papan atas Manchester United, Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger, pelatih Arsenal misalnya. Mereka bukanlah figur yang berkilau saat masih aktif berkarir sebagai pemain. Mereka bersinar menjadi pelatih karena faktor kemampuan manajerialnya. Selain mempunyai tingkat intelegensia di atas rata-rata untuk merumuskan strategi permainan, mereka juga memiliki kemampuan mengelola tim secara lebih kompleks. Mereka harus bisa berfungsi sebagai pengayom bagi pemainnya, baik secara internal maupun eksternal. Namun demikian perlindungan itu harus tetap dalam batas-batas profesionalitas. Bukan bentuk perlindungan dalam pengertian yang negatif.

Di luar semua faktor itu, masih ada dua faktor lain yang sangat mempengaruhi performa sebuah tim sepakbola. Kedua faktor itu adalah dukungan asosiasi dan iklim kompetisi. Kesemua faktor ini idealnya menjadi penyangga bagi prestasi sebuah tim sepakbola. Namun hal yang lebih utama dari semua faktor ini adalah semangat juang yang tinggi dan mental yang kokoh. Semangat yang mampu membakar kesetiaan pada tim, terlebih pada tim nasional yang menyandang nama negara. Mental yang tak mudah rapuh saat mendapat tekanan baik psikologis maupun fisik. Saya melihat justru faktor ini yang banyak dicontohkan oleh tim-tim nasional dari benua hitam Afrika kepada dunia.

Sebenarnya Indonesia banyak memiliki pemain bertalenta. Catat saja sejak era Maulwi Saelan hingga saat ini kita memiliki Boaz Salossa. Bakat-bakat tersebut tenggelam karena banyaknya permasalahan manajemen dalam tim maupun asosiasi dan iklim kompetisi yang buruk. Yang timbul ke permukaan adalah hasil-hasil pertandingan memalukan seperti kekalahan 1-3 dari Myanmar di Sea Games Laos saat ini. Padahal sudah banyak biaya yang dikuras untuk memoles kemampuan bertanding timnas U-23 ini.

Sementara kita lupakan dulu petaka ini. Mungkin sebagian dari anda pernah mendengar kompetisi Danone Nations Cup. Kompetisi sepakbola usia di bawah 12 tahun yang diselenggarakan di Perancis ini pada tahun 2006 menempatkan tim Indonesia yang diwakili klub Makassar Football School menempati peringkat 4 dunia. Kompetisi diikuti oleh 32 negara. Yang membanggakan, tim Indonesia juga dinobatkan sebagai tim dengan pertahanan terbaik karena hanya kebobolan 1 gol.

Sebelumnya, pada 2005 tim Indonesia yang juga diwakili oleh tim yang sama bahkan menempatkan strikernya Irvin Museng sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan Danone Nations Cup dengan 24 gol sekaligus menjadikan tim Indonesia sebagai tim paling produktif. Sempat menimba ilmu di Akademi Ajax, Amsterdam karena direkrut oleh Ruud J.C. Voll, kabar terakhir saat ini Irving bergabung di PSM Makassar.

Kabar pesepakbola berdarah Indonesia di Eropa juga cukup banyak, di antaranya Radja Nainggolan yang saat ini terdaftar dalam tim nasional Belgia dan bermain untuk klub Piacenza di Italia. Beberapa waktu lalu santer kabar burung klub AS Roma berminat menyabet pemain muda yang berposisi sebagai gelandang ini.

Saya pernah bahas mengenai kebersamaan adalah jiwa dalam suatu tim pada artikel sebelumnya. Kebersamaan akan menjadi lebih kompleks saat sebuah tim terdiri dari banyak individu, seperti sebuah tim sepakbola. Sepertinya kebersamaan ini yang kurang dijiwai dan menjadi jiwa tiap dari kita di Indonesia ini. Mungkin itu juga yang menyebabkan prestasi tim sepakbola kita belum pernah membanggakan, bahkan kini terpuruk hingga level terendah. Tim negara tetangga yang dulu kita pandang sebelah mata kini menjadi ancaman yang nyata.

Cerminan ini bisa juga kita saksikan pada aspek bermasyarakat dan bernegara. Bahkan negara-negara tetangga sudah mulai berani berkacak pinggang di hadapan kita. Marilah kita semua introsepeksi dan kembali membangun kebersamaan dari lingkungan terkecil. Eratkan rasa persaudaraan dan hilangkan keinginan untuk berjalan sendiri-sendiri. Hentikan pemekaran wilayah, redam keinginan memisahkan diri dari negara kesatuan.

Lihatlah negara Jerman yang justru bersatu dan kini menikmati hasilnya. Bukan kehancuran, melainkan kemajuan sebagai hasil dari kebersamaan. Jerman Barat yang mengalah untuk merendahkan derajat ekonomi dan standar hidupnya menjadi kunci dari keberhasilan penyatuan dua Jerman.

Jangan bermimpi menjadi raksasa dunia bila belum mampu menemukan jiwa kebersamaan dalam negara kesatuan Indonesia. Namun bermimpilah untuk bersama membangun jatidiri dan kualitas manusia Indonesia. Bila semua telah terbangun, bersiaplah untuk berlari kencang menembus cakrawala baru yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.