|
Pak Enjang mengunyah tempe bacemnya pelan-pelan sambil mencerna beberapa baris kalimat pada kolom surat kabar yang sedang dibacanya. Sudah tiga tempe bacem buatan Yu Isah yang dihabiskannya pagi ini. Yu Isah adalah pembantu di rumahnya yang sudah mengabdi belasan tahun.
”Pagi Pak,” sapa Imron, pemuda berkemeja necis yang baru tahun lalu menjabat sebagai asisten Pak Enjang. Bahasa kerennya ajudan. Imron dipercaya Pak Enjang menjadi asistennya setelah pulang dari studi MBA-nya di Australia atas referensi sang adik, Yeyen. Yeyen ini satu almamater dengan Imron dan sekarang masih di benua Kangguru karena sudah menikah di sana.
”Pagi Im,” Pak Enjang menyeruput kopi hitamnya sebentar sebelum kemudian meletakkan koran.
”Saya baru saja bikin business strategy yang kemaren kita bahas Pak.” Pak Enjang mengernyitkan dahi, sedikit berusaha mengingat apa yang dibicarakan Imron.
”Itu Pak, strategi investasi portofolio kita semester pertama tahun depan,” Imron membetulkan kacamata frameless-nya yang melorot. Hidungnya tidak cukup mancung untuk menopang sepasang lensa bening di depan matanya, dan ini selalu membuatnya jengkel.
Pak Enjang memonyongkan mulutnya, ”Ooo yang itu...,” sekalian ia menyulut rokok kegemarannya yang asli buatan lokal. ”Menurut kamu gimana Im?” Lelaki 42 tahun itu mengibas-ngibaskan tangan kanannya. Batang korek api yang tadi membantunya menyalakan api pada ujung rokoknya kini padam.
Imron mengamati sebentar lembaran kertas kerjanya yang penuh dengan coretan dan tulisan cakar ayamnya. Disusunnya sedemikian agar ia mudah menyontek catatannya.
Berdehem sebentar lalu mulai angkat bicara.
”Investasi tahun depan diprediksi membaik Pak, walaupun dunia usaha masih meragukan untuk berinvestasi di sektor riil.”
”Jadi kamu berpikir kita tetap saja bermain safe di investasi portofolio?” Selidik Pak Enjang.
”Betul Pak.” Imron merubah posisi duduknya, ”Selain investasi di bursa saham, ada baiknya kita mulai melirik potensi akuisisi sektor riil Pak, sebagai antisipasi pulihnya krisis finansial dan bukti bahwa kita mampu menangani krisis dengan cukup baik.”
”Tapi sekarang kan lagi banyak krisis baru Im, gonjang-ganjing KPK trus merembet ke kasus Bank Century. Kamu antisipasinya gimana?” Pak Enjang membungkukkan tubuhnya mendekati Imron. Tanda bahwa ia mulai tertarik dengan paparan Imron. Dihisapnya sebentar kretek kesukaannya lalu dihembusnya sambil memalingkan wajahnya ke kanan.
”Orang bursa lebih konfiden Pak dengan Bu Sri. Mereka yakin dengan integritas dan kejujurannya. Apalagi menkeu waktu itu cukup responsif menangani krisis, Pak.”
”Tapi kalau kemudian terbukti sebaliknya? Atau taruhlah menkeu berada pada posisi terjepit dan terindikasi terlibat kasus ini, bagaimana?”
”Pasti bursa akan anjlok Pak, sentimennya akan negatif...”
”Sampai kapan kondisinya akan negatif begitu?”
”Bursa kita tidak akan merespon negatif sesuatu kasus secara permanen Pak, investor kita sekarang, seperti Bapak juga kan, sudah bisa bersikap realistis. Selama tidak terjadi anarki dan ketidakstabilan pemerintahan, bursa akan pelan-pelan kembali normal. Kita bisa ambil poin juga kan, Pak.”
”Short sell maksud kamu?” Imron tersenyum percaya diri lalu membetulkan letak dasinya.
”Omong-omong short sell, pagi ini kamu ada rekomendasi apa trading kita nanti?”
”Saya rekomendasi pagi ini kelihatannya UNTR bakalan turun Pak. Nah, kebetulan Bapak tadi bilangnya short sell terus, saya rasa hari ini kita bisa short sell UNTR Pak.”
”Kamu yakin?” Pak Enjang berdiri sambil mematikan rokoknya di asbak berukir gaya Bali. Bos yang selalu memakai nominee untuk kepemilikan sahamnya pada beberapa perusahaan besar itu mendekati sebuah sepeda tua yang teronggok di dinding teras belakang. Tua tapi masih belum terlihat usang. Masih berkilat dan terawat.
”Yakin Pak, Jumat kemarin harga penutupan naik, tapi harga pembukaan pagi ini jauh di bawah penutupan minggu lalu. Bahkan tadi walaupun sempat naik, sekarang turun lagi. Nggak sempat menyentuh penutupan Jumat lalu Pak. Ini sign kita bisa short.” Imron menjelaskan menggebu-gebu.
”Terserah kamu Im, saya mau sepedaan dulu keliling kampung...udaranya mumpung enak nih. Agak mendung.”
”Siap Pak,” Imron menyalakan netbooknya dan mulai sibuk dengan tugas-tugas barunya hari ini.
----------oOo----------
Pak Enjang mengunyah dengan penuh penghayatan tempe bacem keduanya sore ini. Sore yang kelabu dengan kumpulan awan yang menggantung rendah. Sambil bermalas-malasan di atas sofa merah bermotif batik di ruang keluarga, mata sipitnya menatap lurus ke arah layar TV yang sedang menayangkan sinetron kesukaannya, Cinta dan Anugerah.
Dia sungguh menikmati hari itu, sampai kemudian hape Nokia-nya berdering. Ya, bunyinya memang dering, seperti telepon rumah jaman Pak Enjang SD dulu.
”Pak, mau lapor trading hari ini...” suara Imron yang sudah akrab di telinga Pak Enjang terdengar lemah.
”O iya, gimana tradingnya?” masih sambil mengunyah bacem. Dicocolnya sedikit pada sambal terasi, yang juga, buatan Yu Isah.
”Hari ini, saya lepas saham Gudang Garam sebagian, Pak, lumayan hari ini naik lagi...padahal baru collect empat hari.”
”Good, berapa lot kamu lepas?”
”Seratus aja Pak, kita masih punya empat ratus...”
”Trus apa lagi?”
”Cuma itu Pak...” Imron lalu terdiam sebentar menunggu reaksi Pak Enjang.
”UNTR-nya gimana?”
”Itulah Pak, saya tadi short sell tapi jualnya di harga rendah. Pas penutupan malah harganya naik di atas harga jual kita Pak.”
”Jadi...??”
”Saya beli di harga tinggi Pak...”
"Imron!..Gara-gara short trading brilian kamu saya jadi shortage...!!” pekik Pak Enjang.
Brakkk!!
Cerita ini hanya fiksi yang didasarkan pada kenyataan situasi terkini, dimaksudkan sebagai upaya pengenalan dunia investasi baik kepada mereka yang belum paham seluk beluk investasi maupun kepada investor pemula.
Penjelasan istilah :
Short sell, transaksi di bursa dengan mekanisme jual saham terlebih dulu pada harga tinggi dengan harapan untuk membeli pada harga yang lebih rendah. Otomatis, pada saat menjual, saham masih belum di tangan. Transaksi ini umumnya dilakukan pada pasar future sebagai hedging. Bila dilakukan pada pasar saham reguler (di Indonesia), maka transaksi harus ditutup dengan membeli saham sebelum jam perdagangan pada hari saat transaksi tersebut ditutup.
Nominee, kepemilikan saham semu pada suatu perusahaan/badan usaha. Nama tersebut sebenarnya tidak mempunyai kuasa atas saham itu.
UNTR, kode perdagangan saham United Tractor
|