JAKARTA - Punya peran besar bagi bangsa belum tentu dihargai. Gelar Pahlawan Nasional bahkan luput dianugerahkan kepada tokoh nasional Mohammad Natsir. Kemarin (15/7) peringatan 100 tahun kelahiran tokoh asal Alahan Panjang, Sumatera Barat, itu berlangsung sederhana di aula Mahkamah Konstitusi. Sejumlah tokoh, minus Anwar Ibrahim yang batal datang, mencoba menceritakan cukilan kenangan dari mantan perdana menteri RI tersebut.
Dalam sambutannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan, figur Natsir patut menjadi panutan para pemimpin Indonesia. Tak hanya soal sifatnya yang sederhana, Natsir patut dicontoh soal bagaimana memperlakukan lawan politik. "Kita punya enam presiden dalam sejarah republik ini. Tetapi, enam presiden itu tidak ada yang saling berbicara satu sama lain. Almarhum Soekarno tidak berbicara dengan almarhum Soeharto. Pak Harto juga tidak berbicara dengan presiden selanjutnya, yaitu B.J. Habibie.
Begitu juga Pak Habibie tidak berbicara dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur juga tidak mau berbicara dengan Ibu Megawati Soekarnoputri. Ibu Megawati juga tidak saling berbicara dengan Presiden Yudhoyono," ujarnya diikuti tawa pengunjung.
Pemimpin, ujar Kalla, boleh saja berbeda pandangan. Tapi, perbedaan pandangan itu seharusnya tidak jadi konflik antarpribadi. Meski berbeda pandangan, Natsir dikenal sebagai politikus yang bersifat santun, bahkan kepada lawan ideologinya. Kebesaran figur Natsir yang ikut membuat Masyumi menjadi partai besar tak bisa ditandingi. Meskipun pasca pembubaran Masyumi, banyak partai baru menggunakan simbol bulan bintang seperti lambang partai Islam terbesar di Pemilu 1955 itu.
"Partai dengan tanda gambar Masyumi banyak sekali. Tapi, nggak bisa terlalu besar karena tidak ada Natsir. Walaupun ada Hamdan (Ketua Umum PBB Hamdan Zoelva, Red), tapi susah itu," ujar ketua umum Partai Golkar tersebut, lantas tersenyum. Dia menambahkan, bahkan Yusril yang diketahui dekat dengan Natsir dan dikenal sebagai "Natsir Muda" juga tak mampu menandingi kebesaran Natsir. Meski demikian, Kalla mengaku bertanya-tanya mengapa orang sesantun Natsir bisa tergabung dalam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Satu per satu kenangan tentang Natsir terlontar dari beberapa tokoh. Mantan Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar mengisahkan, suatu hari Perdana Menteri Sutan Syahrir mendatangi Natsir dan memintanya menjadi menteri penerangan dalam kabinetnya. "Saya kan guru, tidak pernah sekolah komunikasi," tolak Natsir. Syahrir tak mau kalah. "Saya juga tidak pernah sekolah perdana menteri," ujar Natsir seperti ditirukan Malik Fadjar. Alhasil, Natsir menjabat menteri keuangan di tiga kabinet berturut-turut.
Datang terlambat, mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra yang berpakaian trendi dengan kemeja cokelat army look menceritakan Natsir sebagai pejuang dakwah. Suatu ketika dalam dakwah di daerah Senen, Natsir dengan bersemangat mengimbau umat Islam untuk berjihad dengan pedang di tangan kanan dan kain kafan di tangan kiri. Namun, setelah berdakwah, Natsir melontarkan pertanyaan kepada Yusril. "Saudara Ihza, kalau jihad kan tidak perlu memakai kain kafan," ujar Yusril, lantas tertawa kecil.(ein/git/iro)