Akhirnya ada kabar yang lumayan menghibur tidak hanya bagi karyawan PT. Krakatau Steel (KS) tapi juga mereka yang tidak menyetujui penjualan saham pabrik baja nasional itu kepada asing melalui strategic partnership. Saya termasuk dalam kelompok ini. Bukan apa-apa, industri baja ini kan industri yang sangat strategis dan mestinya dipertahankan untuk memperkuat daya saing dan daya dukung dalam pembangunan nasional.
Sebenarnya Indonesia sudah memiliki dasar yang kuat untuk menjadi mandiri dengan pengembangan industri strategis semacam KS ini. Hal ini menjadi perhatian Soeharto dengan mendirikan berbagai industri penting baik dalam upaya mendukung pembangunan maupun pertahanan. Tengok saja perusahaan macam PT. Dirgantara Indonesia, PT. Pindad, PT. PAL, PT. Inka, PT. Dahana, PT. Barata, termasuk di dalamnya industri semen hingga kimia hulu melalui PT. Chandra Asri. Bahkan sejak tahun 2003, pemerintah RRC mengkaji kerjasama industri pertahanan dengan pemerintah Indonesia melalui PT. Pindad, PT. DI, PT. Dahana dan PT. PAL. Pada awal tahun ini kajian tadi direalisasikan dalam bentuk kerjasama pertahanan dengan memproduksi alutsista untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam perjalanannya ternyata industri strategis yang telah dipersiapkan dengan baik itu jalan di tempat dan malah mundur. Lihat saja kisruh PT.DI beberapa tahun yang lalu sebagai akibat campur tangan IMF yang melarang pemerintah mendanai industri ini sehingga memPHK ribuan karyawan dan akhirnya sempat vakum. PT. Inka yang terus merugi, suatu kenyataan khas kebanyakan BUMN kita. Saya yakin kita semua mahfum dengan berbagai realitas ini. Nah, kemudian beberapa waktu lalu muncul wacana untuk melepas mayoritas saham KS kepada investor asing yang banyak (tentu saja) berminat. Secara ekonomis sebenarnya agak mengherankan rencana melepas saham pada saat permintaan baja dunia tumbuh 6.7% dengan negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina) sebagai kontributor konsumsi baja terbesar (IISI: Global steel use to grow 6.7% this year). Apalagi rencananya Indonesia akan mengkonsumsi 9 juta ton untuk produk akhir baja pada 2008 ini yang 40%-nya dipenuhi oleh KS. Kemarin, Menneg BUMN Sofyan Djalil menghendaki KS untuk melaksanakan opsi IPO sebagai alternatif privatisasi. Tapi tentu saja hal ini memerlukan persetujuan DPR. Masalahnya, kalau ada politisasi dalam penentuan mekanisme privatisasi ini bukan tidak mungkin opsi ini akan mentah lagi. Mudah-mudahan saja dalam suasana satu abad kebangkitan nasional tahun ini, semangat kebangsaan masih memenuhi dada para penentu kebijakan negara ini. Founding fathers dan pemangku negeri terdahulu sudah menyerahkan negara ini kepada kita semua. Pertahankan dan kembangkan warisan positif yang ditinggalkan dan benahi warisan buruk yang tersisa. Jangan menambah beban warisan buruk lain bagi generasi berikutnya, karena seperti juga kita saat ini, mereka akan merasa terbebani olehnya. Bila setiap kali industri strategis membutuhkan vitamin dan suplemen lalu pilihannya hanya jual dan jual, apakah masih pantas industri tersebut disebut strategis buat Indonesia?
|