bookmark_picture module_picture
 

Sponsor Link

Tajuk Media & Opini

Tajuk Media dan Opini
Sebut Natsir Layak Jadi Panutan Presiden...
Kalla dalam Peringatan 100 Tahun Mohamma...
More  ]
Susilo Bambang Yudhoyono Masih Pilihan F...
JAKARTA--MI: Hasil survei nasional yang ...
More  ]
FIFA Hapus Nama Nurdin Halid
Federasi Asosiasi Sepakbola Dunia (FIFA)...
More  ]

Sponsor

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Halaman Depan
 
Diadu Domba Lagi Print E-mail
Tuesday, 03 June 2008
 

Saya nggak habis mengerti, kenapa kok umat Islam terus-terusan bisa diadu domba kayak gini. Insiden di Monas baru-baru ini sebenarnya nggak harus berakhir seperti sebuah perang mempertahankan keyakinan sesama muslim. Lho, kok mempertahankan keyakinan? Iya, walaupun sesama muslim tapi ternyata masing-masing pihak meyakini akan makna Islam itu sendiri dengan kacamata yang berseberangan.

Di satu sisi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) berkeyakinan bahwa adalah suatu hak bagi anak manusia untuk bebas meyakini agama tertentu. Semua umat muslim pasti setuju dengan itu karena Nabi sendiri menjamin kebebasan beragama saat beliau memimpin Madinah sehingga semua penduduk Madinah merasa nyaman dan bebas menjalani kehidupannya.

 

Di sisi yang lain Front Pembela Islam (FPI) merasa perlu membatasi kebebasan tersebut di luar dari suatu keyakinan yang mendasarkan pada Islam tetapi dengan syariat dan pandangan yang berbeda dengan Islam yang selama ini dianut oleh umat muslim pada umumnya. Aliran yang menjadi target sorotan yaitu Ahmadiyah, lalu dicap sebagai sesat karena mengakui nabi setelah Nabi Muhammad SAW. FPI dan umat muslim lain yang berpandangan sama, mengkhawatirkan bahwa aliran ini akan merusak akidah umat Islam apabila kehadirannya dibiarkan hidup di Indonesia, bahkan dunia. Mereka menuntut dilarangnya aliran ini di Indonesia sebagaimana beberapa negara lain yang sudah melakukannya, seperti Malaysia dan Brunei. Anehnya pemerintah memang seperti ragu-ragu, tidak seperti memperlakukan aliran 'sesat' lainnya yang serta merta dilarang dan pemimpinnya dipidana seperti halnya Lia Eden (Salamullah) dan Ahmad Mushaddeq (Al Qiyadah). Pihak yang ngotot membela Ahmadiyah juga sepertinya dulu adem ayem saat pemerintah melarang aliran Salamullah dan Al Qiyadah.

 

Sebenarnya saya tidak ingin malah memperkeruh suasana dengan membenturkan pihak yang bertikai, saya malah berpikir mengapa sih mereka ini tidak menyadari bahwa justru saat ini ada pihak lain yang diuntungkan dengan konflik ini. Siapa? Mereka yang bertikai ini saya yakin malah yang paling tau siapa yang diuntungkan dalam hal ini. Apakah konflik ini sebenarnya memang sebuah rekayasa? Dengan berat hati saya kok meyakini hal ini. Wong keliatan jelas. Dan umat Islam yang bertarung sendiri kok ya mau-maunya menjadi obyek rekayasa. Coba deh berpikir dengan lebih jernih dengan menyampingkan sedikit egoisme.

 

Modus adu domba seperti ini sudah sering terjadi dan baik secara sadar (lho, sadar tapi kok mau) ataupun tidak sadar pihak yang bertikai ini menjadi faktor menurunnya kekuatan bangsa dan agama (Islam). Bagaimana bisa kuat kalau variabel pendukungnya tidak saling mendukung dan bersatu padu. Kita semua tau bahwa pengadu domba ini mempergunakan akal daripada otot untuk melemahkan targetnya. Maka dari itu, gunakanlah cara berpikir mereka untuk menghantam balik. Gunakanlah kecerdasan yang dikaruniakan Allah baik yang diwahyukan dalam bentuk Kitabul Ilmi, Al Qur'anul Karim maupun dalam Sunatullah dengan sebaik-baiknya. Tidak mungkin bila hanya mengandalkan otot, demonstrasi, sweeping ataupun pelarangan-pelarangan. Saya memang condong bila pemerintah dengan tegas melarang saja aliran yang dianggap sesat, tapi bagaimana pelarangan itu bisa efektif kembali lagi kepada pemanfaatan sarana yang telah dikaruniakan olehNya dengan maksimal, yaitu melalui ilmu (akal) dan bukan otot.

 

Yang memprihatinkan saya justru berbagai konflik antar umat Islam akan menimbulkan citra yang makin buruk di mata mereka yang tidak memahami Islam. Negara-negara Islam di Timur Tengah rasanya tidak pernah akur. Aksi-aksi terorisme yang 'disinyalir' dilakukan oleh umat Islam (yang ini saya nggak yakin) dengan mengatasnamakan jihad. Bahkan isu poligami yang seringkali disikapi oleh umat Islam sendiri dengan sudut pandang sempit menambah perbendaharaan untuk menyudutkan Islam. Semua ini menjadi bahan yang mengasyikkan bagi mereka yang berkepentingan dengan kemunduran (negara-negara) Islam untuk makin mengksploitasi berbagai kelemahan ini.

 

Woii..bangun! Jangan cuma saling menyalahkan. Jangan terus terlena dalam keteguhan sikap yang belum tentu benar. Belajar lagi pada Al-Quran, dan pelajarilah musuhmu. Jangan menjauhi mereka, karena merekalah yang akan memberimu pelajaran. Itulah yang mereka lakukan saat ini tanpa kita semua sadari sehingga mereka belajar dari 'kebodohan' kita. Mau tetap bodoh dan bertengkar sepanjang masa atau belajar menjadi pintar dari mereka? Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayahNya pada kita semua, amiin.


Quote this article in website Related articles Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
 
Free Web Hosting with Website Builder

Bookmark Ngopini

Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: StumbleUpon Add to: Yahoo Add to: Technorati Add to: Google
Social Bookmarking

Lintasan Ngopini





GrowUrl.com - growing your website

Sedang Online

Statistics

Visitors: 50773
Copyright (c) 2008 Ngopini.Com. All rights reserved. Template designed by JOOMS