Selama dua hari ini sejak Sabtu sampai Minggu saya nongkrongin ANTV, tertarik nonton program ISinema, sinetron yang dikemas gaya film layar lebar berjudul Ujang Pantry. Yang bikin saya kayak duduk di atas lem adalah tayangan ini sama sekali berbeda dengan tayangan sinetron, bahkan program sejenis (kalo ga salah di SCTV dinamai FTV) yang temanya udah pasaran. BTW, sebenarnya ini film lama sih tahun 2006, tapi baru nonton rerunnya semalem...telat banget ya kasih opininya.
OK, tema di Ujang Pantry ini sebenarnya juga ga baru-baru amat. Tapi pendekatan dalam storytellingnya yang berbeda. Beda dalam mengangkat problema hubungan cinta antara kalangan elite yang kebarat-baratan tapi tulus dan baik hati dengan sosok office boy rendah hati yang lugu di sebuah kantor advertising. Background tokoh utamanya sendiri (Nadine) sebagai creative director amat jarang diangkat sebagai profesi tokoh di film maupun sinetron Indonesia. Profesi ini sekarang dianggap sebagai profesinya anak muda yang kreatif, mahal dan berkelas. Banyak anak muda yang memimpikan pekerjaan ini seperti juga pekerjaan di industri kreatif lainnya (Mencermati Industri Kreatif Indonesia) seperti pekerja film maupun musisi.
Namun sosok Nadine yang diperankan Dinna Olivia ini digambarkan dekat dengan tipikal anak muda, yaitu suka dugem. Akibatnya dia secara tanpa sadar akibat pengaruh alkohol berhubungan dengan Ujang (Agus Ringgo Rahman) sang office boy lugu itu. Kejadian itu membuatnya hamil. Saya sih baru nonton separuh akhir bagian pertama film ini dan nggak mengerti ihwalnya hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk meneruskan kehamilan itu. Mereka lalu dengan kikuk menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi dengan sekat-sekat atasan-bawahan yang membatasi. Nadina akhirnya menyadari kalau dia mencintai Ujang yang lugu dan jujur, tidak seperti semua mantan kekasihnya seperti yang dia ungkapkan pada Gendis sahabatnya. Cinta mereka tidak mulus, bukan karena hambatan keluarga (seperti kebanyakan tema sinetron lainnya), tapi jauhnya perbedaan pandangan dan nilai-nilai yang selama ini mereka jalani. Bagaimana Ujang yang tidak mengerti bahasa Inggris yang malah sering diucapkan Nadine dalam hampir tiap kalimatnya. Atau Ujang yang bersendawa sehabis makan dan melamar Nadine di sebuah warteg dengan nada bicara yang datar. Dari semua ketertarikan saya di atas, ada beberapa hal yang mengganjal. Akting Dinna Olivia keren abis. Tapi Ringgo kok sepertinya nggak bisa mengimbangi. Lihat saja ekpresinya yang hampir sama saat ia sedih, kesal maupun senang. Ringgo bahkan tidak mengeluarkan air mata waktu berakting menangis kehilangan Ujangwati maupun saat curhat dengan Gombloh (yang digambarkan interaksi keduanya melalui sekat seperti di ruang pengakuan dosa). Pengambilan gambarpun masih sederhana. Masih seperti kemasan sinetron, kurang mengeksplorasi kesempatan mendapatkan gambar-gambar yang mendukung suatu adegan. Seperti Ujang yang digambarkan sedih karena merasa tidak lagi mempunyai tujuan hidup, berjalan sendiri dan hampir tertabrak motor. Akan lebih terlihat nyata bila gambar diambil dari atas sehingga posisi motor benar-benar terlihat berhenti mendadak di sisi tubuh Ujang yang melangkah lunglai. Saya sempet nggak ngeh kenapa motor itu berhenti mendadak, karena tidak terlihat posisinya apakah berhenti tepat di samping, depan atau belakang Ringgo. Kejanggalan lain, bagaimana dengan sikap orang tua Nadine dengan kehamilannya? Apakah Nadine juga menyembunyikan status hubungannya dengan Ujang? Perlu ada informasi walau sekilas karena Nadine masih tinggal bersama orang tuanya. Lalu apa yang menyebabkan sikap Gendis berubah tanpa penonton mengetahui penyebabnya karena tiba-tiba Gendis dengan wajah ceria ikut mengiringi Nadine menyambut Ujang yang dikawal dua polisi? Sebagaimana penonton tahu, Gendis amat keras pada Ujang yang dianggapnya penyebab rumitnya hubungan Nadine-Ujang. Penceritaan seperti ini masih memakai pola yang sama dengan film Indonesia lainnya. Menyederhanakan dan penuh kebetulan. Tapi untuk Ujang Pantry ini unsur kebetulan memang minimal. Film ini secara umum tidak menampilkan karakter secara hitam putih. Semua karakter mempunyai sisi baik dan buruk, hingga penonton seakan mendapati kejadian dalam film memang bisa terjadi di luar sana. Gaya bertutur juga disajikan secara cerdas dan membumi...kayaknya khas Rudy Sudjarwo. Angkat topi buat Mas Rudy. Karya-karyanya memang ga pernah jauh dari award :-). Ujang Pantry memborong piala Vidia tahun 2006 dengan menyabet 5 penghargaan untuk aktris terbaik, aktor terbaik, sutradara terbaik, aktris pendukung terbaik, editing terbaik.
|