bookmark_picture module_picture
 

Sponsor Link

Tajuk Media & Opini

Tajuk Media dan Opini
Stephen Hawking Dorong Era Baru Penakluk...
Washington (ANTARA News) - Astrofisikawa...
More  ]
Sebut Natsir Layak Jadi Panutan Presiden...
Kalla dalam Peringatan 100 Tahun Mohamma...
More  ]
Pak Cik "Curi" Lagi Lagu Kami
Berkali-kali kejadian itu terulang kemba...
More  ]

Sponsor

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Halaman Depan
 
Mencermati Industri Kreatif Indonesia Print E-mail
Thursday, 24 April 2008
 

Dahi saya mengernyit tiap kali menemui istilah industri kreatif yang akhir-akhir ini sering saya baca di beberapa media. Penasaran juga mendapatkan istilah baru yang bahkan sempat disinggung oleh Presiden SBY tahun lalu pada seremoni pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia 2007. Presiden menyitir pendapat Alvin Toffler mengenai tiga gelombang ekonomi dalam peradaban manusia yang kemudian diteruskan sendiri oleh Presiden dengan Gelombang Ekonomi Keempat yang tekanan karakteristiknya pada budaya dan lingkungan.

Menurut tim riset ekonomi kreatif Departemen Perdagangan Republik Indonesia, definisi ekonomi kreatif itu sendiri adalah :

“Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut “

Definisi di atas dikutip dari UK DCMS Task force 1998, dengan pengelompokan industri yaitu :

Periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion design, video, film, fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, riset dan pengembangan.

 

Begitu menemukan definisi apa itu indutri kreatif, saya agak sedikit tercerahkan. Cukup sedikit aja tercerahkannya karena saya sudah mereka-reka sendiri menurut definisi saya. Intinya adalah produk proses kreatif yang dapat menghasilkan unsur keekonomian.

 

Indonesia, diakui atau tidak, sebenarnya adalah negara yang penduduknya amat kreatif. Namun sayangnya kreativitas ini seringkali mubasir. Pangkal permasalahannya adalah tidak mudahnya memanfaatkan keunggulan ini akibat kurangnya perhatian pemerintah dari orde-orde terdahulu hingga sekarang. Tidak ada visi yang jelas untuk mengangkat derajat keekonomian industri ini hingga sejajar dengan industri strategis lainnya yang sudah terbukti menghasilkan devisa. Sepertinya pemerintah tidak berani mengambil terobosan-terobosan cerdas untuk mempercepat proses peningkatan ekonomi rakyat selain dari yang sudah ada. Terbukti dengan pemanfaatan habis-habisan industri sumber daya alam seperti pertambangan, pertanian dan perkebunan. Saat ini industri andalan itu pun benar-benar habis. Tidak nampak peningkatan keekonomian seperti yang diharapkan, petani masih miskin dan Indonesia pun menjadi anggota OPEC yang juga importir minyak.

 

Sejak dua dasawarsa lalu sebenarnya apa yang dinamakan industri kreatif itu sudah berkembang di Indonesia. Terutama musik yang saya anggap sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahkan negara tetangga baik secara langsung maupun tak langsung mengakui eksistensi musik Indonesia dengan populernya musik Indonesia di negara tersebut. Musisi Indonesia pun banyak meraih penghargaan di tingkat regional maupun internasional. Namun hal ini belum membuat pemerintah tersentuh untuk mendukung industri kreatif ini. Dukungan hanya berupa wacana tanpa kebijakan yang berarti. Parahnya lagi palang hukum tidak berjalan dengan baik di negeri ini membuat para pemain di industri kreatif ini tidak memperoleh haknya secara maksimal. Tapi hebatnya seniman kita ini masih bisa dan mau bertahan di industri ini. Saya melihat karena memang musik Indonesia telah menjadi bagian dalam kehidupan  rakyat Indonesia.

 

Lalu bila kita melihat pada pengelompokan industri kreatif di atas, ternyata riset dan pengembangan juga menjadi bagian dalam industri ini. Menarik untuk dicermati karena sebenarnya satu terobosan telah sempat ditempuh dengan pendirian pabrik pesawat terbang Nurtanio (saat ini menjadi PT. Dirgantara Indonesia) dan dibentuknya kementrian riset dan teknologi yang dipunggawai BJ. Habibie (kok kalimatnya kayak penyiar radio tahun lapan puluhan ya..) telah membuka jalan bagi industri riset dan teknologi. Sayangnya, definisi riset dan teknologi di sini diartikan sebagai industri dengan teknologi yang tinggi. Akibatnya bisa diduga, yaitu kendala keterbatasan dana untuk mengembangkan industri ini. Riset dan teknologi menurut saya termasuk di antaranya pengembangan teknologi dalam semua aspek industri. Sebagai contoh, riset untuk meningkatkan performa olahragawan, riset untuk pengembangan pendidikan dan riset untuk teknologi rancang bangun alat transportasi.

 

Saya banyak mengamati apa yang kini disebut dengan industri kreatif ini karena memang minat saya pada kebudayaan, seni dan teknologi. Bukan sebagai pelaku melainkan hanya pengamat. Sedikit melegakan saya kalau kini ada upaya dari Departemen Perdagangan untuk memberikan perhatian pada industri kreatif. Setidaknya departemen ini kini tengah menyusun berbagai publikasi mengenai industri kreatif, setelah menyelesaikan penyusunan buku Studi Industri Kreatif 2007. Belum jelas apakah ini adalah adalah semacam blueprint industri kreatif Indonesia. Tapi menurut saya, perlu adanya kerjasama antar departemen dan instansi yang terkait agar tidak mengulang kesalahan serupa yang sering terjadi selama ini. Industri ini selain Departemen Perdagangan juga terkait dengan Departemen Perindustrian, Kementrian Riset dan Teknologi, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Departemen Komunikasi dan Informatika. Jangan lupa, bisa saja Kementrian Pemuda dan Olahraga juga menjadi bagian di sini. Lihat saja di negara-negara yang sudah maju industri olahraganya seperti Inggris, Amerika dan Italia. Mereka mengemas pertandingan olahraga menjadi suatu tontonan yang menghibur, lengkap dengan atraksi hiburan, di luar pertandingannya sendiri yang memang sudah menarik ditonton. Ditambah dengan lisensi siar televisi dan berbagai pernak-pernik merchandise. Perhatikan saja integrasi antara kebudayaan, media dan olahraga yang tercermin dengan menyatunya ketiga bidang ini dalam sebuah departemen pemerintah di Inggris, yaitu Department for Culture, Media and Sport.

 

Sepengetahuan saya British Council saat ini tengah bermitra dengan Forum Graphic Digital melakukan pemetaan keekonomian bagi industri kreatif di bidang grafis. Saya berharap akan ada kelanjutan kegiatan pemetaan di bidang lain, terutama yang saat ini menjadi bidang paling bersinar dalam industri kreatif selain periklanan yang telah masuk dalam kategori grafis di atas, yaitu fashion dan kerajinan. Mengapa saya sebut paling bersinar? Karena fashion dan kerajinan menurut Mari Pangestu masing-masing menyumbang 30 dan 23 persen bagi kontribusi industri kreatif dalam GDP Indonesia. Sementara periklanan menyumbang 18 persen. Industri kreatif sendiri menurut tim riset industri kreatif Depdag pada tahun 2007 lalu menyumbang 6,3 persen dalam GDP Nasional. 

ayat ayat cinta

Terlepas dari data statistik di atas, industri musik yang sudah matang di tanah air ditambah perfilman yang sedang menggeliat mestinya juga memperoleh perhatian lebih agar makin mampu berbicara di tingkat regional maupun dunia. Ini adalah bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Indonesia sekaligus meningkatkan keekonomian dalam industri kreatif Indonesia. Guys, keep up the great works!

Note : Gambar diambil dari MD Production 


Quote this article in website Related articles Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
Free Web Hosting with Website Builder

Bookmark Ngopini

Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: StumbleUpon Add to: Yahoo Add to: Technorati Add to: Google
Social Bookmarking

Lintasan Ngopini





GrowUrl.com - growing your website

Sedang Online

Statistics

Visitors: 50869
Copyright (c) 2008 Ngopini.Com. All rights reserved. Template designed by JOOMS