bookmark_picture module_picture
 

Sponsor Link

Tajuk Media & Opini

Tajuk Media dan Opini
Presiden Ingatkan Perkuat Pasar Kerajina...
Jakarta, 23/4 (ANTARA News) - Presiden S...
More  ]
Darmin Mimpikan Bursa Global
JAKARTA - Dirjen Pajak Depkeu Darmin Nas...
More  ]
Joged Nggak Karuan Jadi Hits di Interne...
Jakarta - Bagaimana mungkin tarian buruk...
More  ]

Sponsor

 
Empati Buat Rakyat Kecil Print E-mail
Tuesday, 08 April 2008
 

Miris hati saya begitu baca berita di detiksurabaya.com ini. Ternyata sikap anarkis masih menjadi budaya kita. Mungkinkah aksi-aksi perusakan yang sering mengiringi demonstrasi-demonstrasi sepuluh tahun belakangan ini sebenarnya juga merupakan akumulasi dari contoh yang ditunjukkan aparat selama ini?

Kita sudah lama mendengar, bahkan mungkin menyaksikan sendiri arogansi aparat dalam menertibkan masyarakat, terutama rakyat kecil. Mereka merubuhkan, merusak dan menghancurkan apa saja yang menjadi aset korban penertiban. Seperti artikel berita yang saya baca di atas, korban penertiban adalah pedagang ikan hias di kawasan Jalan Tentara Genie Pelajar, Surabaya. Tenda, akuarium dan aset lain para pedagang itu hancur setelah ditertibkan aparat Satpol PP.

 

Saya kok tidak melihat itu sebagai suatu penertiban. Itu adalah perusakan dan anarki. Sedih saya saat membaca komentar para pedagang itu yang harus melihat dagangan mereka hancur dalam sekejap sementara mereka harus pula membayar satu juta rupiah untuk iuran tenda tiap bulannya. Bagaimana selanjutnya mereka harus mencari nafkah bila dagangan mereka harus pula dihancurkan. Tidak adakah cara yang lebih manusiawi dalam menertibkan suatu kawasan. Aksi anarkis model ini memang sudah lama kita temui, namun pada masa lalu masyarakat hanya bisa dongkol dan tidak berani atau enggan melakukan perlawanan. Sebagaimana kita ketahui masa itu adalah sulit bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri.

 

Masa berganti dengan orde yang lebih memberi kebebasan berekspresi. Bukan tidak mungkin masyarakat bercermin pada aksi anarkis aparat pada orde terdahulu, sehingga seolah mendapat kesempatan membalaskan dendamnya. Saat ini mudah kita temui aksi-aksi anarkis yang menghiasi demonstrasi-demonstrasi maupun anarki sporadis untuk menyuarakan ketidakpuasan akan sesuatu hal. Masyarakat menjadi mudahnya melakukan perusakan. Maka terkuaklah bagaimana sebenarnya tipikal masyarakat kita yang mudah terpancing emosinya dan bertindak irasional. 

 

Jadi, kalau saya boleh memberikan masukan bagi Bapak-bapak aparat Satpol PP manapun, tolonglah bersikap sewajarnya dalam menertibkan suatu kawasan. Penertiban memang diperlukan tapi dengan proporsi yang pada tempatnya. Adalah bukan pada tempatnya bila penertiban dilakukan dengan perusakan aset seseorang. Lakukan dengan tindakan persuasif terlebih dulu. Berbeda halnya bila yang ditertibkan melakukan perlawanan yang destruktif, maka memang perlu penanganan yang profesional sesuai prosedur yang berlaku. Saya yakin prosedur ini pasti ada. Namun bukan berarti hal ini menjadi suatu pengesahan atas perbuatan anarkis dalam menjawab aksi anarkis. Tetaplah berfikir rasional dan posisikan anda di pihak mereka. Inilah yang disebut empati.


Quote this article in website Related articles Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
 
Free Web Hosting with Website Builder

Bookmark Ngopini

Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: StumbleUpon Add to: Yahoo Add to: Technorati Add to: Google
Social Bookmarking

Lintasan Ngopini





GrowUrl.com - growing your website

Statistics

Visitors: 50799
Copyright (c) 2008 Ngopini.Com. All rights reserved. Template designed by JOOMS