Mungkin saya agak terlambat kalau mau ngopini komentar Megawati baru-baru ini bahwa pemimpin suatu negara tidak memerlukan gelar kesarjanaan sebagaimana Nabi Muhammad SAW untuk dapat mengemban amanat rakyat. Tapi karena masih dalam suasana peringatan kelahiran Sang Nabi, saya perlu sedikit beropini tanpa pretensi apapun.
Di satu sisi memang kemampuan kepemimpinan seseorang menjadi pertimbangan untuk dapat dipilih menjadi presiden misalnya. Namun tidak dapat dinafikan pula kemampuan intelektual seseorang harus dapat menjadi pendukung baginya untuk menjalani tugasnya menjadi pemimpin. Bila saja sang calon pemimpin itu telah mempunyai kemampuan inteletual yang mendapat pengakuan luas walaupun ia tidak mendapatkannya secara formal, menurut saya sebenarnya sah-sah saja. Dan kemampuan itulah yang dimiliki oleh sang Nabi Besar Muhammad SAW, tanpa ada satu pun yang menyangkalnya. Jadi alangkah naif mengasumsikan suatu kesamaan antara kemampuan kepemimpinan Beliau yang semua perbuatan dan ucapannya secara langsung mendapat bimbingan Sang Maha Kuasa dengan manusia biasa. Lagipula, mana ada sih gelar sarjana jaman segitu :-D. Komentar Megawati selama ini justru banyak merefleksikan bagaimana diri seorang Megawati secara personal. Ironisnya pada saat dirinya menjabat presiden, ia malah tidak banyak berkomentar. Komentar malah banyak bertebaran saat menjelang berakhir masa jabatannya. Memang bukan langsung keluar dari Megawati, namun dari sang suami, Taufik Kiemas terkait pengunduran diri SBY untuk kemudian mencalonkan diri menjadi kandidat presiden. Komentar kemudian berlanjut setelah kekalahan dirinya dari panggung pemilu. Saat itu ia mengatakan bahwa dirinya tidak kalah, tapi hanya kekurangan suara. Komentar ini yang menimbulkan kegelian saya. Suatu permainan kata-kata yang menimbulkan interpretasi publik mengenai kadar intelektualitas sang pengucap. Sebenarnya bukan hal yang aneh di negeri ini mengenai permainan kata-kata macam ini. Permainan kata-kata muncul dari ragam pejabat baik dari ranah hukum maupun politik. Tujuannya jelas demi kepentingan sang pejabat maupun organisasi yang dipimpinnya. Alangkah manisnya bila para pemimpin, baik partai maupun organisasi lain yang mengemban amanat memimpin partai dan organisasinya, berkomunikasi dengan santun. Menyatakan sikap secara bijaksana dan tulus demi kepentingan masyarakat banyak, bukan hanya kepentingan golongannya. Sikap yang mewujud atas pemikiran jangka panjang dan bukan atas keuntungan sesaat.
|