bookmark_picture module_picture
 

Sponsor Link

Tajuk Media & Opini

Tajuk Media dan Opini
Darmin Mimpikan Bursa Global
JAKARTA - Dirjen Pajak Depkeu Darmin Nas...
More  ]
Cuil Tantang Google
SAN FRANSISCO, SENIN - Dalam waktu dekat...
More  ]
Pak Cik "Curi" Lagi Lagu Kami
Berkali-kali kejadian itu terulang kemba...
More  ]

Sponsor

 
Permainan Kata-Kata Kita Print E-mail
Saturday, 22 March 2008
 

Mungkin saya agak terlambat kalau mau ngopini komentar Megawati baru-baru ini bahwa pemimpin suatu negara tidak memerlukan gelar kesarjanaan sebagaimana Nabi Muhammad SAW untuk dapat mengemban amanat rakyat. Tapi karena masih dalam suasana peringatan kelahiran Sang Nabi, saya perlu sedikit beropini tanpa pretensi apapun.

Di satu sisi memang kemampuan kepemimpinan seseorang menjadi pertimbangan untuk dapat dipilih menjadi presiden misalnya. Namun tidak dapat dinafikan pula kemampuan intelektual seseorang harus dapat menjadi pendukung baginya untuk menjalani tugasnya menjadi pemimpin. Bila saja sang calon pemimpin itu telah mempunyai kemampuan inteletual yang mendapat pengakuan luas walaupun ia tidak mendapatkannya secara formal, menurut saya sebenarnya sah-sah saja. Dan kemampuan itulah yang dimiliki oleh sang Nabi Besar Muhammad SAW, tanpa ada satu pun yang menyangkalnya.

 

Jadi alangkah naif mengasumsikan suatu kesamaan antara kemampuan kepemimpinan Beliau yang semua perbuatan dan ucapannya secara langsung mendapat bimbingan Sang Maha Kuasa dengan manusia biasa. Lagipula, mana ada sih gelar sarjana jaman segitu :-D.

 

Komentar Megawati selama ini justru banyak merefleksikan bagaimana diri seorang Megawati secara personal. Ironisnya pada saat dirinya menjabat presiden, ia malah tidak banyak berkomentar. Komentar malah banyak bertebaran saat menjelang berakhir masa jabatannya. Memang bukan langsung keluar dari Megawati, namun dari sang suami, Taufik Kiemas terkait pengunduran diri SBY untuk kemudian mencalonkan diri menjadi kandidat presiden.

 

Komentar kemudian berlanjut setelah kekalahan dirinya dari panggung pemilu. Saat itu ia mengatakan bahwa dirinya tidak kalah, tapi hanya kekurangan suara. Komentar ini yang menimbulkan kegelian saya. Suatu permainan kata-kata yang menimbulkan interpretasi publik mengenai kadar intelektualitas sang pengucap. Sebenarnya bukan hal yang aneh di negeri ini mengenai permainan kata-kata macam ini. Permainan kata-kata muncul dari ragam pejabat baik dari ranah hukum maupun politik. Tujuannya jelas demi kepentingan sang pejabat maupun organisasi yang dipimpinnya.

 

Alangkah manisnya bila para pemimpin, baik partai maupun organisasi lain yang mengemban amanat memimpin partai dan organisasinya, berkomunikasi dengan santun. Menyatakan sikap secara bijaksana dan tulus demi kepentingan masyarakat banyak, bukan hanya kepentingan golongannya. Sikap yang mewujud atas pemikiran jangka panjang dan bukan atas keuntungan sesaat. 


Quote this article in website Related articles Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
 
Free Web Hosting with Website Builder

Bookmark Ngopini

Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: StumbleUpon Add to: Yahoo Add to: Technorati Add to: Google
Social Bookmarking

Lintasan Ngopini





GrowUrl.com - growing your website

Statistics

Visitors: 57355
Copyright (c) 2008 Ngopini.Com. All rights reserved. Template designed by JOOMS