Penuturan Michelle, Istri Almarhum JAKARTA - Tiga hari setelah kepergian Gito Rollies, sang istri, Isolde Michelle Sugito, akhirnya mau menemui wartawan. Perempuan yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah sekolah internasional tersebut menceritakan saat-saat terakhir mendampingi mantan rocker yang terkenal dengan penampilan atraktifnya saat di atas panggung itu.
"Awalnya, anak-anak nggak mau saya ngomong di media. Mereka bilang, ngapain sih Ma kita harus ngomong sama wartawan?" kata Michelle, menirukan pertanyaan yang meluncur dari salah seorang putranya.
Michelle sepenuhnya menyadari posisi suaminya yang selebriti. Bukan hanya milik keluarga, penyanyi Astuti itu juga ada di hati penggemarnya. "Saya bilang ke anak saya, ’kita memang orang biasa, tapi bapak kamu bukan orang biasa. Kita harus mewakili dia sekarang’," ujarnya.
Michelle bersyukur, lima permintaan yang pernah diungkapkan suaminya sudah terlaksana di akhir hayatnya. Pertama, almarhum ingin meninggal dalam keadaan dakwah. Kedua, meninggal dalam keadaan sadar. Ketiga, meninggal pada hari Jumat. Keempat, meninggal saat ada di dekat keluarga dan sahabat. Dan kelima, kesempatan untuk beribadah guna menebus dosa-dosanya.
Beberapa tahun belakangan, almarhum memang hijrah dari rocker menjadi pendakwah. Bukan hanya di Indonesia, bersama rekan-rekannya, Gito menyebarkan agama hingga ke luar negeri. Terakhir, Sabtu (23/2) lalu Gito baru kembali dari perjalanannya di Padang, Sumatera Barat. "Dia meninggal Kamis (28/2) sesudah salat magrib. Dalam hitungan Islam, itu sudah masuk Jumat," jelas Michelle.
Pemberitaan media massa menyebut, kepergian Gito disebabkan kanker getah bening yang menggerogoti tiga tahun belakangan. Michelle meluruskan kabar tersebut. Menurut dia, di saat-saat terakhirnya, Gito mengalami gangguan di beberapa organ.
"Paru-parunya infeksi berat. Ginjalnya tidak berfungsi. Beberapa organ sudah nggak betul, termasuk jantung. Jadi, bukan karena kankernya," terang Michelle.
Detik-detik menjelang kepergian sang kepala rumah tangga, jelas Michelle, membuatnya sedih, tetapi juga haru dan begitu indah. "Juga mau saya luruskan, sebelum meninggal, Gito tidak koma. Dia sadar. Mulutnya terus menyebut nama Allah. Saat meninggal, dia tidak terlihat kesakitan, tapi tersenyum pada kami semua," paparnya. Sesekali Michelle menghentikan penuturannya untuk membendung tangisnya.
Tak ada Gito di sisinya, Michelle mengaku siap menggantikan peran suaminya itu dalam membimbing anak-anak. Pesan yang ditinggalkan Gito untuk anak-anak adalah selalu menyempatkan salat lima waktu berjamaah di masjid.
Jauh sebelumnya, Michelle sempat berpikir untuk kembali ke negara asalnya, Belanda, jika Gito dijemput Allah. Namun, niat tersebut kini sudah berubah. "Waktu saya lihat orang muslim meninggal, indah banget. Dikubur, didoakan. Kalau saya meninggal di luar, belum tentu bisa seperti itu. Saya pikir saya akan tetap tinggal di sini," tuturnya. (rie)
Jawa Pos, 3 Maret 2008
|